Monday, August 18, 2008

Thomas Tatang

siapa itu Thomas Tatang?

Dia adalah guru kimia ketika aku masih 1 SMA eh SMU. Orang Sunda mengajar kimia. Betul-betul hebat.

Apa saja kehebatannya?

Pertama, dia selalu menyebut nama unsur-unsur kimia, terutama logam-logam golongan IA dan IIA dengan suara yang mirip dengan kata "peuyeum". Natrieum, Lithieum, Magnesieum, Barieum, Helieum (He bukan gol IA melainkan VIIIA), dll. Pokoknya peuyeum banget, deh.

Kedua, dia punya penyakit P kuadrat = nRT. Sama seperti kebanyakan orang Sunda, dia sulit menyebut F dan V, semua dianggap P. Jadinya PV=nRT menjadi PP=nRT. Hasilnya P kuadrat = nRT.

Ketiga, akibat penyakit yang sama dengan kedua, nama ahli kimia dari Eropa Timur menjadi Cecep Mendeleyep, yang seharusnya Mendeleyev. Sampai temanku tega-teganya bilang "Dasar Kampung!". (Sebetulnya kata-kata Cecep itu aku tambahkan, setiap kali dia bilang Mendeleyep, pasti ada yang nyeletuk 'Cecep')

Keempat, dia paling senang dengan ulangan mendadak. Tiba-tiba datang memberi ulangan kimia, mengisi tabel sistem periodik. Wah, murid-murid pada bete. Mana mungkin hapalan dijadikan bahan ulangan mendadak. Yah, kita akhirnya belajar bahwa kita setiap hari harus selalu siap menghadapi semua ulangan mendadak. Emangnya pelajaran cuma kimia, doang?

Kelima, kata-kata dia ketika menangkap seorang siswa yang mencontek, "Saya tidak peduli kamu anak pejabat, anak orang kaya, bla... bla... bla... kamu harus bla... bla... bla...". Yah, intinya sih dia ingin berkata bahwa sistem pendidikan haruslah egaliter. Hak dan kewajiban setiap siswa itu sama.

Keenam, kebiasaannya memakai baju Safari abu-abu atau biru gelap. Sepertinya baju itu, baju kesayangannya. Sejak 1998, dia tidak pakai baju Safari lagi. Mungkin Orde Soeharto telah berakhir.

Ketujuh, aku cukup puas diajar olehnya. Dia sering memeragakan banyak hal di kelas. Dan berkat dia, aku bisa seperti sekarang ini. Masih ingat beberapa sistem periodik (minimal Golongan A). Wah, tanpa dia, belajar di SMA Aloysius Bandung (yang jalan Sultan Agung) kaga bakal berkesan.

2 comments:

Su Fen said...

Ih pitnah... kata siapa orang sunda gak bisa nyebut ep ama pe??? :))

Ignatius Sapto Condro Atmawan Bisawarna said...

Pitnah itu lebih kejam darifada fembunuhan.